Fitri Yusuf Husain Reses di Botungobungo, Warga Sampaikan Kebutuhan Rumput Laut dan Pengembangan Ternak

Pelaksanaan reses Aleg DPRD Gorut, Fitri Yusuf Husain di Desa Botungobungo. (dok.ist)

Lintas-Publik.com, Gorut — Anggota DPRD Gorontalo Utara, Fitri Yusuf Husain, melaksanakan agenda reses masa sidang pertama tahun sidang kedua 2025–2026 dengan menyerap berbagai aspirasi masyarakat di Desa Botungobungo, Rabu (3/12).

Dalam kesempatan tersebut, Fitri menyampaikan apresiasi atas seluruh masukan yang telah disampaikan warga. Ia menegaskan bahwa setiap aspirasi akan ditindaklanjuti melalui mekanisme resmi perencanaan daerah.

“Terima kasih atas masukan-masukannya. Insyaallah aspirasi yang disampaikan kepada saya akan diinput dalam SIPD tahun 2026 untuk program 2027. Seperti itulah pekerjaan kami dalam mengawal aspirasi masyarakat,” ujarnya.

Fitri menjelaskan bahwa seluruh aspirasi yang diterima akan dicatat secara lengkap sebelum dinas terkait melakukan proses penyaringan dan penyesuaian dengan kemampuan anggaran daerah.

Ia juga menyoroti besarnya potensi sektor peternakan dan perikanan di sejumlah desa, termasuk Botungobungo, yang menurutnya harus dimaksimalkan oleh pemerintah desa dan masyarakat.

“Program peternakan itu luar biasa, begitu juga perikanan. Ada peluangnya, jangan disia-siakan. Ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah desa Botungobungo yang memiliki potensi besar di dua sektor tersebut,” jelasnya.

Fitri mendorong masyarakat untuk bersinergi dan tidak berjalan sendiri-sendiri dalam meningkatkan perekonomian desa. Menurutnya, kolaborasi adalah kunci untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan.

“Kalau kita bangkit bersama, pasti bisa. Bayangkan warga desa bisa menghasilkan rumput laut, itu sangat mungkin,” katanya.

Dalam reses itu, Fitri juga mengungkapkan kegelisahannya di masa lalu terkait potensi peternakan Gorontalo yang belum dimaksimalkan.

“Saya dulu pernah protes, Gorontalo yang punya sapi, tapi nama Palu yang dikenal karena pengiriman sapi semua lewat sana. Waktu itu saya belum menjadi aleg, tapi itu jadi cambukan untuk kita memperbaiki tata kelola ke depan,” ungkapnya.

Ia turut mengajak masyarakat mendukung program pemerintah daerah G2-10 demi percepatan pembangunan. Fitri juga memaparkan program pribadinya yang ia sebut sebagai Program 123, sebuah konsep yang menurutnya berfokus pada penanganan akar kemiskinan.

“Mengapa 123? Karena menurut saya angka kemiskinan di daerah ini harus diberantas. Filosofinya sederhana: setiap hari kita menghasilkan limbah dari sisa makanan. Kalau itu dimanfaatkan untuk pakan ternak seperti ayam, tidak akan mubazir. Kalau kita punya ternak, sisa makanan ini menjadi pakan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *