Lintas-Publik.com, (Gorut) — Memperingati Hari Guru Nasional (HGN) , Presiden BEM Universitas Ichsan Gorontalo Utara (UIGU), Sahril Kolly, melontarkan refleksi kritis sekaligus tantangan terbuka kepada Komisi III DPRD Gorut agar menghadirkan langkah konkret dalam menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan yang dinilai stagnan hingga hari ini.
Menurut Sahril, peringatan Hari Guru Nasional seharusnya menjadi momentum evaluasi besar terhadap kualitas pendidikan. Namun, kondisi di lapangan justru menunjukkan bahwa sektor pendidikan di Gorontalo Utara seperti mengalami kemunduran.
“Untuk sekian kalinya kita kembali merefleksikan Hari Guru Nasional di tengah banyaknya permasalahan pendidikan. Komisi III DPRD Gorut seakan tak mampu melahirkan gebrakan baru yang fokus pada kemajuan pendidikan. Dari banyak persoalan, komisi ini seperti mengalami kebuntuan dalam berpikir,” tegasnya, Senin (24/11).
Ia menilai persoalan pendidikan tidak hanya berkutat pada sarana dan mutu, tetapi juga akses. Banyak pemuda Gorut yang memiliki motivasi kuat untuk melanjutkan pendidikan, namun terbentur kondisi ekonomi keluarga yang lemah. Bahkan, tidak sedikit yang tak pernah mengecap bangku pendidikan sejak usia dini.
Sahril mengingatkan bahwa dirinya bersama Aliansi Mahardika telah berulang kali menyampaikan solusi konkret, termasuk mendorong skema beasiswa CSR untuk membantu pemuda berprestasi namun kurang mampu.
Usulan tersebut telah disampaikan melalui aksi demonstrasi maupun forum diskusi, namun hingga kini belum mendapat respons serius dari para legislator.
“Saat aksi demonstrasi, kami sudah menawarkan solusi berupa beasiswa CSR yang insya Allah bisa menjadi jalan keluar bagi teman-teman yang ingin melanjutkan pendidikan. Tapi sampai hari ini, saran kami seakan tak terdengar oleh para wakil rakyat, khususnya Ketua Komisi III yang kerap mengklaim dirinya sebagai representasi anak muda,” ungkap Sahril.
Ia menegaskan bahwa pemuda Gorut memiliki potensi besar dan keinginan kuat untuk berkembang, sehingga perhatian serius dari para wakil rakyat merupakan kewajiban, bukan sekadar pilihan.
“Pemuda Gorut harus lebih diperhatikan. Banyak dari mereka memiliki bakat luar biasa. Pemerintah dan DPRD, terutama Komisi III, jangan hanya hadir saat kontestasi politik, tetapi harus nyata memperjuangkan hak pendidikan bagi generasi muda,” tutupnya.
Melalui refleksi ini, Sahril Kolly berharap peringatan Hari Guru Nasional tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi pengingat bahwa masa depan pendidikan di Gorut harus dibangun dengan kebijakan progresif, keberpihakan terhadap rakyat kecil, dan keberanian legislator untuk mengambil langkah nyata.













